TENTANG SUATU KABAR ( Al- Hujurat : 6) part 2

بسم الله الر حمن الر حيم

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Ayat ini memberi kita pelajaran bahwa ; agar kita tidak  mudah percaya sebuah kabar, atau jangan hanya mendengarkan penjelasan satu pihak.  kita harus  mengetahui kebenarannya sebelum mengambil tindakan.  Supaya  tak ada pihak  yang di rugikan dan menyebabkan kita menyesal akibat tindakan kita. untuk mengetahui sejarah di balik ayat ini, klik sini.

Disisi lain, ayat di atas juga memberikan pelajaran bahwa” janganlah menyampaikan kabar bohong, atau sebelum kita menyampaikan sebuah kabar, maka kita harus mengetahui kebenarannya atau kesahihan kabar itu, supaya kita tidak tergolong orang fasik .

Terinspirasinya postingan berasal dari cerita abi, bahwa ia mendengar dalam sebuah  ta’lim yang di sampaikan seorang ustadz di depan orang banyak . Bahwa ustad tersebut menyatakan  tentang sesatnya sebuah kelompok , karena mereka  suka pulang pergi ke India, konon katanya mereka menyembah kuburan.

Astaghfirullah. Aku hanya bisa bergumam dalam hati, “ apakah ustadz itu pernah ke India? Dari mana beliau mendapatkan kabar itu, sehingga mengambil kesimpulan “sesat”?   Apakah hanya kabar bin kabar? “. Aku tak bisa menyalahkan ustadz itu, karena aku tak pernah kesana. Namun  aku tak bisa membenar kan informasi dan penjelasan beliau, karena setahuku beliau tak pernah kesana.  Dan juga di sisi lain aku juga pernah mendengar ;” memang di sana (tempat yang dimaksud ustadz itu) ada kuburan seorang ulama yang tersohor. Memang banyak orang yang ziarah kekuburan itu, dengan berbagai macam- macam motif tujuan, dan  memang tak sedikit yang menyimpang dari aturan agama. Bahkan konon katanya orang yang bukan Islam pun suka datang kekuburan itu memohon keberkahan. Tapi tak semua orang yang kesana itu menyembah kuburan!!!.  Disana adalah salah satu markaz da’wah, dan di sana banyak orang yang belajar, karena di sana juga berkumpul  para masyaikh , ulama, dan hafiz- hafiz Alquran.

Memang rasanya tak mungkin, orang indo pergi kesana hanya sekedar untuk shalat berjamaah, tapi bukan berarti jauh- jauh kesana hanya meminta keberkahan kepada penghuni kuburan. Ga masuk akal kan?  Memang kadang orang yang kesana kadang hanya sehari atau dua hari, namun seandainya niat mereka untuk hidmat ulama sambil belajar, di sisi Allah ga akan sia- sia kan?  Memang rasa nya terlalu singkat kalau itu untuk belajar, tapi bukan berarti menutup kemungkinan, berkumpulnya sehari- dua hari bisa merubah gaya hidup  seseorang kan?

Misalnya juga ; seseorang yang bolak balik shalat berjamaah kemesjid, dan kebetulan ia harus melalui jalan tempat berkumpulnya para lacur. Kita yang pertama kali melihatnya, apakah kita bisa menuduhnya main lacur?  Memang ia sering melaui jalan tempatnya lacur, tapi bukan berarti ia main lacur kan?

Untuk itulah hendaknya kita berhati hati dalam menyampaikan informasi. Apalagi masalah kehormatan nama dan agama. Apa lagi terlalu mudah “membid’ahkan atau mengkafirkan” seseorang. Dengan hanya berdasarkan kabar bin kabar dan kita langsung menghakiminya dengan berbagai dalil dan pasal- pasal,   tanpa langsung bertanya langsung kepada yang bersangkutan  atau langsung meninjau ke lapangan.

Menuduh perempuan baik- baik berzina tanpa menghadirkan empat saksi, dalam Islam hukumannya didera 80 kali, dan  mereka pun di katakan orang yang “fasik”

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An- Nuur: 4).

Bagaimana dengan kehormatan agama seorang muslim??!!

“ Barang siapa memanggil seseorang sebagai kafir atau musuh Allah, tetapi orang itu tidak sebagaimana sebutan itu, maka ucapannya akan kembali kepada yang mengatakannya.” (Muslim)

Mudahan dengan postingan ini membuat kita (diri pribadi tentunya) berhati – hati dalam menyampaikan sebuah kabar,  agar kita tidak di golongkan orang yang fasik. Dan juga mudahan membuat kita tidak mudah percaya atau terprovokasi oleh sebuah berita , agar kita tidak merugikan fihak lain yang menyebabkan kita menyesal di kemudian hari.

About these ads

7 thoughts on “TENTANG SUATU KABAR ( Al- Hujurat : 6) part 2

  1. betul mba’….. sebaiknya kalau ada berita apa saja kita harus mengetahui kebenarnya dahulu, tidak tidak boleh menelan informasi tersebut dalam keadaan mentah.
    kita ketahui dulu sumber informasinya. ya kan?/

  2. Subhanallah sesungguhx sy tlh menglmi hal spt ne dan tulisn ini mengingtkn sy tas kteledorn sy yg tdk mencri tau kbenrn brita yg dsmpikn kpd sy dan alhamdulillah dri sna sy bs belajr krn benr guru terbaik adl pengalamn

Tinggalkanlah jejakmu disini,,,. mudahan terjalin tali silaturrahmi..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s